• By: Radio Elfara

RADIO ELFARA – Kondusifitas kota Malang sebagai miniatur nusantara tetap terjaga di tengah keberagaman dan komitmen nyata pembangunan inklusi.Pesan itu disampaikan oleh Dra. Rinawati, MM selaku Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik kota Malang dalam webinar yang diselenggarakan oleh SETARA Institute melalui zoom dengan tema ‘Pengarusutamaan Tata Kelola Pemerintahan Inklusif dan Dampaknya bagi Penguatan Keberagaman di Daerah’ Rabu (13/4).

Menurut Rinawati sehubungan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) kota Malang 2018-2023, kota Malang memiliki visi yaitu Kota Malang Bermartabat, yang bertujuan mewujudkan misi ketiga yaitu kota yang rukun dan toleran berasaskan keberagaman dan keberpihakan masyarakat rentan dan gender.

Keberagaman ini sudah ada sejak dahulu di Kota Malang. Keragaman budaya lahir di antaranya dari karakteristik sebagai kota pendidikan. Di mana ada 57 kampus dan 300 ribu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara,” tutur Rina. 

Banyaknya pendatang dan pekerja di kota Malang menciptakan keberagaman yang muncul dari karakteristik individu. Keragaman demografis dari segi agama dan kepercayaan menciptakan berbagai tempat ibadah di kota Malang yang dijadikan sebagai cagar budaya dan dilestarikan keberadaannya untuk aset sejarah kota sekaligus tempat ibadah.

Munculnya keberagaman agama menimbulkan tantangan bagi kondusifitas dan keberagaman tetap berkembang bersama dinamika geopolitik, perkembangan digital dan cepatnya arus informasi, dinamika menyambut tahun politik, serta faktor lainnya. “Meningkatnya pemanfaatan teknologi informasi belum dibarengi penguatan literasi di Indonesia. Kita kumpul, namun pikiran tidak kumpul. Kemajuan teknologi dan keterbukaan akses informasi memberikan peluang penyebaran paham radikalisme, berita hoaks atau kejadian yang berpotensi menimbulkan konflik dengan kecepatan dan cara-cara yang tidak diprediksi sebelumnya,” jelas Rina. [SC]