RADIO ELFARA – Sudah sembilan belas tahun lamanya berkarir di dunia musik bukanlah waktu yang singkat. D’MASIV ingin melihat kilas balik perjalanan mereka melalui album terbarunya yaitu TIME, yang merupakan album ketujuh band pop asal Jakarta ini. Dirilis pada 25 Februari lalu, TIME adalah rangkuman perjalanan dan kebersamaan antara Rian Ekky Pradipta (vokal), Dwikky Aditya Marsall alias Kiki (gitar), Nurul Damar Ramadhan atau Rama (gitar), Rai Dinata (bas) dan Wahyu Piaji (drum) sejak tahun 2003.
“Kenapa TIME? Itu sesuai banget dengan keadaan: kami kerjakan pas pandemi, kami punya banyak waktu untuk bisa banyak mengobrol serta memikirkan band ini akan jadi apa ke depan. Ada sedikit rasa emosional terhadap keadaan, orang banyak kehilangan di masa itu, ada yang merasa punya banyak waktu buat keluarga, ada juga yang menyesal enggak bisa punya waktu banyak lalu sudah ditinggal pergi oleh orang terkasih di masa pandemi,” kata Rama menanggapi judul albumnya.
Mengingat D’MASIV yang menamai album pertama mereka dengan ‘Perubahan’, karena akan selalu ada hal-hal yang berbeda dan berubah setiap album, begitu juga dengan lagu ke-10 pada album terbaru ini. Rai mengatakan, “Banyak energi baru di album ini yang bisa kalian rasakan ketika mendengar semua lagunya,”. Bisa diliat dari cover album mereka yang berbeda dari biasanya, kalau biasanya menampilkan foto kelima membernya kali ini mereka mengajak Dmaz Brodjonegoro untuk melukis simbol perjalanan hidup mereka. “Ada tentang pertaruhan, cinta, keberuntungan, harapan, kejayaan. Semua kami tuangkan di kover album ini,” kata Rian.
Hal baru yang terjadi saat pengerjaan album TIME yaitu prosesnya tidak berlangsung di studio, melainkan di kediaman Rian di Jakarta dan Omahe Kancaku milik Oni krisnerwinto di Yogyakarta. “Kami mengerjakannya di rumah, santai, tidak terpatok waktu. Kalau tiba-tiba enggak mood, ya sudah, kami santai-santai dulu. Kalau tiba-tiba ada tukang bakso di depan rumah, kami makan bakso dulu. Jadi tidak terkekang oleh sif studio,” ucap Kiki.
Ciri khas D’MASIV pada album TIME ini juga cukup berubah. Menurut Rama, “Kontras banget dengan album D’MASIV yang lain, Kedengaran banget musiknya lebih rapat, musik dan vokal serta backing vocal yang lebih groove. Sekilas terdengar seperti musik di era ‘80-’90-an.”. Perbedaan ini disebabkan oleh suara drum Wahyo yang diisi secara elektronik tanpa drum akustik, sehingga sederet lagu-lagu seperti “Lagu Untukmu”, “Waktu yang Menjawab”, “Terlalu Tinggi”, “Perawan” dan “Perempuan Tangguh” terdengar segar tanpa kehilangan ciri khas musik D’MASIV yang tidak asing lagi di telinga.
Selain perubahan karakteristik, ini juga kali pertama mereka bekerja sama dengan seorang vocal director, Rayen Pono. Dalam proses kerja sama dengan Rayen, secara tidak sengaja tercipta lagu “Sahabat Jadi Kekasih” yang berkisah cinta segitiga diiringi vocal yang merdu oleh Rian, Rayen dan Regina Poetiray dari Geisha. Terkait kerja sama Rama menanggapi, “Urusan memilih kolaborator berjalan dengan sangat natural. Enggak pernah diniatkan dari awal tapi seiring berjalannya waktu dalam proses rekaman album munculah nama-nama yang kami rasa bisa menambah keseruan,” kata Rama.
Hal baru lainnya pada album ini yaitu terdapat “Side by Side”, lagu pertama mereka yang full english. “Saya dikirim musik, nada vokal dan judul ‘Side by Side’ lewat WhatsApp. Sejam kemudian liriknya sudah beres dan dikirim balik. Lalu saat rekaman vokal, Rian bekerja keras untuk memastikan pelafalannya tepat,” kata Hasief Ardiasyah, penulis lirik “Side by Side”.
D’MASIV memilih lagu pembuka sekaligus single yang menandakan era baru ini dengan lagu kolaborasi mereka bersama Fiersa Besari, “Sinema”. Menurut Rian, “Kami sepakat memilih ‘Sinema’ karena sangat sesuai dengan kondisi sekarang yang dunia sedang tidak baik-baik saja. Di sisi lain, kami perlu suatu hal yang menyenangkan, positif dan bikin orang senyum saat dengar lagunya.”.
Sebagai band yang sudah berkarir cukup lama di dunia musik, mereka sudah punya kedewasaan untuk menyadari bahwa tidak semua orang akan menyukai perubahan yang mereka alami ini. “Gue berharap orang bisa berkomentar jujur dengan album ini setelah dengar. Kalau enggak suka, ya boleh lah,” ungkap Wahyu.
D’MASIV berharap lewat album barunya ini bisa menjadi album yang bermakna baik untuk mereka maupun untuk para penggemar dan penikmat musik lainnya. “Kami ingin album ini menjadi warisan untuk D’MASIV sendiri dan anak cucu kami,” kata Rian. “Harapannya album ini tidak hanya menemani hidup kalian, tapi juga menjadi sesuatu yang bisa kalian omongkan terus sampai kapan pun. Menjadi cerita untuk kalian ceritakan lagi ke generasi yang akan datang juga.”.[SS]