RADIO ELFARA – Para ahli dari Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya mengadakan pelatihan membatik ecoprint bagi para warga Kampung Budaya Polowijen untuk agar meningkatkan kemampuan warga sekitar pada Sabtu (26/3).
Sebelumnya warga Kampung Budaya Polowijen telah mempelajari teknik membatik, tapi dengan adanya pelatihan ini warga bisa mendalami teknik membatik ecoprint langsung dari narasumber Untag. Pada pelatihan ini warga memanfaatkan bahan alam dari tanaman di sekitar Polowijen untuk membuat batik ecoprint. Menurut Isa Wahyudi selaku penggagas Kampung Budaya Polowijen, warga Kampung Budaya Polowijen harus terus belajar agar meningkatkan kualitas produk yang mereka miliki. Maka dari itu dengan banyaknya teknik membatik yang dimiliki warga Kampung Budaya Polowijen kedepannya akan menciptakan inovasi baru sehingga produk batik akan semakin beragam.
Kampung Budaya Polowijen memiliki dua produk batik yang menjadi ciri khas mereka dan telah mendapatkan Hak Kekayaan Intelekual (HaKI). Dua produk tersebut yaitu batik motif Ken Dedes dan Topeng Malang. Kedua ciri khas motif batik ini dibuat agar dapat bersaing dengan produk batik di pasaran.
Salah satu warga Kampung Budaya Polowijen Tatik Nur Fajriyah mengatakan jika ia semakin serius dalam mengembangkan batik sehingga kampung ini dapat dikenal masyarakat luas dengan kekayaan batiknya. “Saat ini ada sekitar 60 warga di Kampung Budaya Polowijen yang menekuni batik. Sebagian besar masih menjadi kerja sambilan. Harapannya, batik bisa menjadi andalan untuk meningkatkan kesejahteraan,” ungkap Tatik. [SC]