Triknya efektif, saya hampir tidak pernah merasa bosan saat menonton.

“These creatures were here before us. And if we’re not careful, they’ll be here after us.”
— Dr Ian Malcolm

Rating UP:
Konsep fundamental dari Jurassic World: Fallen Kingdom bisa diamati lewat dinosaurus yang khusus dikreasikan untuk filmnya, yakni Indoraptor, hibrid antara Velociraptor dengan dinosaurus dari Jurassic World, Indominus Rex. Dinosaurus fiktif baru ini tak sebesar Indominus, namun sama mematikannya plus segesit Velociraptor. Penciptanya hanya butuh pembunuh yang efektif, bukan pembunuh berukuran raksasa. Filmnya sendiri tak merasa perlu untuk tampil lebih besar dibanding film pendahulunya. Yang penting efektif.

Saat ini teknologi perfilman sudah sangat mutakhir; hampir tak ada yang tak bisa dilakukan oleh efek komputer, yang pada akhirnya meninggalkan fakta bahwa hanya sedikit hal yang bisa membuat kita takjub dalam menonton film. Bisa dibilang mustahil untuk membawa kembali sense of wonder seperti yang dilakukan Steven Spielberg lewat Jurassic Park, film terobosannya yang membawa dunia sinema ke era baru. Oleh karena itu, saya yakin pembuat Fallen Kingdommenargetkan filmnya sebagai wahana pemberi keseruan dan pemicu ketegangan. Dan film ini berhasil melakukan apa yang ingin ia lakukan.

Fallen Kingdom masihlah film Jurassic Park yang dungu. Karakterisasi manusianya tipis, plotnya berisi banyak kemustahilan. Namun mereka dibutuhkan agar karakter manusia kita bisa berteriak histeris atau berlarian dengan panik, sementara karakter dinosaurus kita mengamuk dan kadang-kadang memakan manusia. Singkat kata, film ini adalah film monster standar. Permainan moralitas mengenai perlu atau tidaknya menyelamatkan dinosaurus dari kepunahan ulang hanyalah menjadi piranti plot untuk membuat kita terikat dengan apa yang akan terjadi di menit berikutnya. Namun trik ini efektif, saya hampir tidak pernah merasa bosan saat menonton.

Film ini juga mengeset kontinuitas yang masuk akal dengan film sebelumnya dan (kemungkinan besar) film berikutnya. Setelah kekacauan di Isla Nublar dalam Jurassic World, taman dinosaurus sekarang sudah terbengkalai. Namun ekosistem dinosaurusnya berkembang dengan subur. Cuma ada satu masalah: gunung berapi Isla Nublar akan meletus sehingga mengancam semua kehidupan disana. Apakah pemerintah perlu mengintervensi bencana alami ini agar hewan-hewan langka ini tak kembali punah? Tidak, menurut Dr Ian Malcolm (Jeff Goldblum) kepada anggota DPR Amerika.

Namun pendapat tersebut jelas tak disetujui oleh Claire (Bryce Dallas Howard), mantan petugas taman Jurassic World yang sekarang menjadi aktivis dinosaurus. Jadi ketika ia mendapat tawaran dari milyuner Ben Lockwood (James Cromwell) —partner John Hammond dari film orisinal Jurassic Park— via asistennya, Eli (Rafe Spall) untuk menyelamatkan dinosaurus dan membawa mereka ke pulau suaka yang sangat aman, maka Claire segera merekrut mantan pacarnya, Owen (Chris Pratt) dan membawa serta rekan sesama aktivis, Franklin (Justice Smith) dan Zia (Daniella Pineda).

Bagi Owen, misi ini personal karena ia ingin menyelamatkan mantan sobatnya dulu, velociraptor cerdas bernama Blue. Namun sebagaimana di semua film Jurassic Park, setiap misi ke pulau dinosaurus pasti punya maksud terselubung. Dan titik ini, saya kira anda akan meminta saya untuk berhenti membeberkan plotnya. Yang jelas, Claire dan Owen harus berusaha lebih keras untuk menyelamatkan para penghuni Isla Nublar. Usaha ini melibatkan mengendap-endap di markas musuh dan berlarian di beberapa tempat. Untung Claire sekarang tidak lagi memakai sepatu hak tinggi.

Pencapaian paling penting dari sebuah film penuh efek adalah saat kita berhenti memperhatikan efek spesialnya, alih-alih kita mulai peduli terhadap karakternya dan manut begitu saja dengan filmnya. Sutradara film, JA Bayona menerapkan teknik efektif yang tidak kentara. Filmografinya mulai dari film minimalis seperti horor gothic The Orphanage sampai yang punya sekuens besar macam film bencana The Impossible. Oleh karena itu, ia mampu bertindak dengan mulus pada berbagai momen. Disini, ia bermain dengan trik kamera, siluet, dan bayangan untuk mengarahkan intensitas. Di satu titik, ia bahkan mampu menyetir emosi.

Salah satu adegan terbaik adalah ketika erupsi gunung berapi berlangsung. Hampir semua dinosaurus berbondong-bondong melarikan diri, sementara karakter kita ikut terseret di dalamnya. Ini adalah sekuens dengan skala terbesar dalam Fallen Kingdom; di antara hiruk pikuk tersebut, pembuat film masih sempat-sempatnya memasukkan pertarungan antara T-Rex dengan Stegosaurus. Namun yang bikin saya kagum adalah bagaimana Bayona memindahkan fokusnya antara dinosaurus dan karakter kita di antara destruksi masif tanpa kehilangan ketegangan.

Setelah kejadian ini, Fallen Kingdom akhirnya membawa dinosaurus keluar pulau… lalu ke tengah masyarakat? Tidak juga. Bagian selanjutnya adalah kesempatan bagi Bayona untuk menunjukkan kemahirannya dalam menggunakan koridor, kamar, tangga, atap, lift, dan kerangkeng untuk menyajikan kebrutalan dinosaurus. Kali ini aksi mereka lebih gamblang daripada yang diperlihatkan Colin Trevorrow dalam Jurassic World. Tentu saja, harus ada anak kecil (Isabella Sermon) yang terjebak di tengah-tengahnya.

Saya tak tahu apakah yang terjadi dalam Fallen Kingdom merupakan visi dari Trevorrow sejak awal. Namun menarik melihat bagaimana sutradara/penulis yang kali ini hanya bertindak sebagai penulis naskah ini membawa filmnya ke arah yang baru, sementara ia masih memakai template klise dari franchisenya. Kata “World” dalam judul Jurassic World bukan buat gaya-gayaan semata. Betul, kita takkan merasa tergugah setelah keluar bioskop. Tapi saya tak keberatan menonton film dungu selagi ia seru. ■UP

 

source : http://www.ulasanpilem.com/2018/06/review-jurassic-world-fallen-kingdom.html