Folk Music Festival 2018 | Musik dan Literasi |

 


_

Mempersembahkan,
_
TIGAPAGI
JASON RANTI
MONITA TAHALEA
BIN IDRIS
FOURTWNTY
POHON TUA
ADRIAN YUNAN
DANILLA
SANDRAYATI FAY
GARDIKA GIGIH
WAKE UP, IRIS!
PUSAKATA
EFEK RUMAH KACA
REDA
MONDO GASCARO
GERALD SITUMORANG
DARAMUDA
WHITE SHOES & THE COUPLES COMPANY
_
3 – 4 – 5 Agustus 2018
__________
Kusuma Agrowisata
Batu – Jawa Timur – Indonesia
_

selengkapnya di WWW.FOLKMUSICFESTIVAL.ID
_

#folkmusicfestival2018
#bicarapertemuan

LINE UP MUSIK

ADRIAN YUNAN
Adrian Yunan adalah bassist Efek Rumah Kaca yang kini juga berkarya sebagai solois. Album
perdananya, Sintas, yang rilis pada 2017 lalu diilhami oleh pengalaman Adrian sebagai seorang
penyintas. Lagu-lagunya banyak berkisah tentang hal-hal sederhana dalam hidup yang disampaikan
melalui kacamata yang unik; seperti permintaan maaf pada sang anak karena telah merusak
mainannya atau kekhawatiran tentang datangnya alzheimer. Dalam absennya cahaya, musisi yang
Maret 2018 lalu mewakili Indonesia di True Colors Festival yang diselenggarakan oleh UNESCO di
Singapura ini tidak berhenti menghadirkan komposisi musik yang eksploratif.

ARAY DAULAY
Aray Daulay akrab di telinga penikmat musik sebagai punggawa band rock penting era 90'an Plastik,
kolektif reggae Steven and the Coconut Trees, dan juga Ray D'Sky yang mengusung folk yang banyak
mengangkat obrolan lingkungan hidup dalam karya-karyanya. Juni 2018 ini, Aray merilis album baru
berjudul "Lagu Perjalanan", yang mengandung beberapa lagu lama dari project yang dulu pernah Aray
kerjakan, dan direkam ulang dengan aransemen baru. Album tersebut diproduseri oleh Aray sendiri,
tandem bersama kawan bermusiknya Didit Saad, dan ada pula beberapa musisi lain yang juga ikut
terlibat di dalamnya.

BAYANGAN
Bayangan adalah alter ego dari Fikri Fadzil. Mengusung neo-folk, musik Bayangan menyentuh
permasalahan kehidupan urban kontemporer Malaysia, dari hubungan personal hingga isu sosial. Fikri
juga dikenal sebagai pendiri The Wknd Sessions yang fokus mempromosikan musik alternatif Malaysia
dan Asia Tenggara. Album perdana Bayangan bertajuk Bersendirian Berhad telah terbit pada April
2018 dalam format CD dan juga bisa diakses melalui major online streaming. Setelah sukses
menjalankan tur Malaysia dan Singapura, Agustus 2018 Bayangan akan tur di Indonesia untuk
mempromosikan Bersendirian Berhad.

BIN IDRIS
Bin Idris merupakan proyek solo Haikal Azizi, vokalis/gitaris Sigmun, yang memiliki nuansa musik yang
berbeda 180 derajat dari band psych rock tempatnya bernaung itu. Seperti salah satu judul lagu
andalannya, nomor-nomor yang dilahirkan Bin Idris sangat cocok didengarkan sambil rebahan,
berkontemplasi. Liriknya sendiri banyak berbicara soal keseharian, mulai dari kehidupan komplekperumahan yang rawan gosip hingga himbauan berkendara dengan bijak di jalan tol. Sejauh ini Bin Idris telah merilis 2 album, yaitu album self-titled Bin Idris (2016) dan Anjing Tua (2017) yang dirilis
secara eksklusif di Tirto.id.

DANILLA
Kegemaran pada nada-nada minor dan tema gelap terpancar jelas dalam lagu-lagu perempuan
bersuara alto ini. Cemas dan hangat di saat yang bersamaan, mungkin begitu cara paling tepat untuk
mendefinisikan karya-karyanya. Danilla baru saja meluncurkan album keduanya yang berjudul
Lintasan Waktu pada akhir 2017 lalu, menawarkan suasana yang berbeda dari album
pertamanya—alih-alih kembali menghadirkan romansa polos nan syahdu, kini Danilla mencoba
mendekati hal yang mungkin banyak dihindari : rasa takut. Di album ini pula Danilla mulai menjamah
posisi produser, tandem dengan Aldi Nada Permana dari Ruang Waktu Music Lab & produser album
pertama sekaligus partner in crime Danilla dalam bermusik, Lafa Pratomo. Berbeda dengan rilisan
pertama, di album keduanya ini 90% materi lagu ditulis oleh Danilla sendiri.

DARAMUDA
Daramuda adalah kolektif musik yang beranggotakan 3 musisi lintas arah : Danilla, Rara Sekar, &
Sandrayati Fay. Danilla & Sandra dikenal sebagai singer-songwriter dengan karakter musik yang tak
serupa, Rara dikenal luas sebagai separuh duo pop nelangsa Banda Neira yang selamanya akan selalu
dirindukan para penikmat musik. Proyek woles mereka ini hadir dalam wujud video karya-karya
mereka, sendiri-sendiri, di lokasi yang terpisah–Danilla di Jogja, Rara di Madura, dan Sandra di Bali.
Ketiganya mengawal proses bercerita dengan hanya ditemani gitar. Ah, dan karena semuanya direkam
secara live di alam terbuka maka suara-suara macam suara hembusan angin, air mengalir, kicau
burung, atau gesekan rumput pun akan ikut terdengar.

EFEK RUMAH KACA
Efek Rumah Kaca bukan hanya sebuah band, melainkan aksi protes damai yang membakar pelan-
pelan. “Memotret zaman”, demikian band dengan personil inti Cholil Mahmud (vokal utama, gitar),
Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar), & Poppie Airil (bass, vokal latar) ini mendeskripsikan diri. Hal
itu tampak di materi-materi yang mereka rilis sejak pertama terbentuk di tahun 2005. Sejak era
aransemen minimalis seperti di 2 album pertama (Efek Rumah Kaca, 2007; dan Kamar Gelap, 2008)
hingga ke era yang lebih progresif di album ke-3 Sinestesia (2015), ERK selalu berhasil menawarkan
eksplorasi baru tanpa kehilangan sensibilitas khas ERK sendiri.

FOURTWNTY
Fourtwnty mencuri perhatian penikmat musik Tanah Air sejak lagu mereka yang berjudul “Zona
Nyaman” menjadi lagu tema dari film laris “Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody” (2017). Band asal Jakarta yang
terdiri dari 3 personel yaitu Ari, Nuwi, & Roots ini uniknya selalu hadir dalam formasi tidak
lengkap—hanya Ari & Nuwi berdua. Setelah meluncurkan EP Setengah Dulu (2014) dan LP Lelaku
(2015) yang dirilis dibawah naungan Demajors, tepat pada 4/20/2018 lalu Fourtwnty merilis album
penuh ke-2 mereka yang diberi judul Ego & Fungsi Otak. Dengan mengandalkan musik santai dengan
lirik yang menggelitik, Fourtwnty mengajak pendengarnya untuk melonggarkan pikiran dan
mengamati hari dengan apa adanya.

GARDIKA GIGIH
Gardika Gigih adalah seorang komponis dan pianis asal Yogyakarta yang dikenal dengan gubahan-
gubahannya yang melankolis. Album perdananya, Nyala, telah rilis 2017 silam melalui proses rekam
secara live di sebuah ruang seminar di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Baginya cara seperti ini
adalah jalan yang paling pas untuk menangkap energi asli dari komposisi musiknya yang sinematik. Di
album ini Gigih juga dibantu oleh banyak kawan-kawan musisi, antara lain Rara Sekar & Ananda
Badudu yang pernah berkolaborasi dengannya dalam pembuatan album mereka saat masih
mengusung bendera Banda Neira, dan Febrian Mohammad a.k.a Layur yang pernah bertiga
bersamanya & Ananda-Rara mewujudkan konser kolaborasi Kita Sama-sama Suka Hujan.

GERALD SITUMORANG
Gerald Situmorang telah berkawan akrab dengan gitar sejak dirinya masih 13 tahun. Sejak itu, dia
banyak berguru pada para gitaris dan musisi kelas kakap antara lain Nikita Dompas dan Indra
Lesmana. Mengawali karir bermusiknya sebagai duo akustik instrumental Sketsa bersama Dimas
Wibisana, seiring berjalannya waktu Gerald makin banyak terlibat di berbagai proyek musik antara lain
Gerald Situmorang Trio, Hemiola Quartet, Monita Tahalea and The Nightingales, Barasuara, dsb.
Walau selama ini dikenal sebagai gitaris, secara tak disangka-sangka di band rock Barasuara Gerald
justru memegang kendali di pos bass. Pada 2015 Gerald bersama Monita Tahalea memproduseri
album ke-2 Monita yang berjudul Dandelion, dan seperti halnya proyek-proyek musik Gerald lainnya
karya yang satu ini pun banyak diganjar penghargaan. Akhir tahun 2017 lalu Gerald baru saja merilis
album solo ke-2 nya, Dimensions, setelah sebelumnya merilis Solitude pada tahun 2015.

JASON RANTI
Bermodalkan gitar bolong, harmonika, dan sejumlah keresahan, Jason Ranti hadir dengan nomor-
nomor slebor nan menggelitik tanpa didasari niatan menjadi komedik. Album perdananya, Akibat
Pergaulan Blues, penuh dengan rentetan lirik kritis yang apa adanya. Melalui nada-nada yang terkesan
melompat-lompat seperti sedang meracau, pria Tangerang yang akrab disapa Jeje ini siap mengobrak-
abrik ketenangan pemikiran pendengarnya.

MONDO GASCARO
Mondo Gascaro dikenal dengan komposisi musiknya yang kaya akan detail. Album solo perdananya,
Rajakelana, menjadi bukti bahwa Mondo adalah seorang virtuoso dalam hal meracik lapis demi lapis
instrumen yang ramai menjadi sesuatu yang nikmat didengar. Musiknya akan membawa kita ke tepi
pantai di suatu sore tahun 70an, santai dan sederhana. Disamping bergelut sebagai musisi solo,
Mondo juga dikenal sebagai film score composer dan juga menggawangi label rekaman Ivy League
yang dibangunnya bersama sang istri, Sarah Glandosch. Single terbarunya, “April”, baru saja dirilis di
bulan yang sama, yang sekaligus menjadi kado kecilnya bagi sang istri yang dinikahinya bulan April 5
tahun silam.

MONITA TAHALEA
Wanita bersuara teduh itu bernama Monita Tahalea. Musik yang dihadirkannya bersinonim dengan
kata ‘damai’, dengan komposisi yang ringan namun berbobot. Album keduanya, “Dandelion”,
diproduseri oleh Gerald Situmorang dan Monita sendiri. Album yang dipuji kritikus dan disukai
penikmat musik tersebut sempat masuk daftar 20 album terbaik 2015 versi Rolling Stone Indonesia;
seakan mengukuhkan bahwa kedepannya Monita akan terus meniupkan angin sejuk bagi dunia musik
Indonesia.

POHON TUA
Pohon Tua adalah proyek solo Dadang Pranoto, gitaris band grunge Navicula dan vokalis/gitaris band
folk Dialog Dini Hari. Setelah sekian lama menjalani proyek solonya ini akhirnya di tahun 2017 lalu
album solo perdana berjudul Kubu Carik lahir juga. Album tersebut merupakan bentuk respon Dadang
terhadap buku prosa “Dua Senja Pohon Tua” garapan penulis sekaligus kawan Dadang, Eko Prabowo,
yang isinya merupakan interpretasi lagu-lagu karya Dadang sendiri. Dalam bermusik di bawah bendera
Pohon Tua, Dadang mengambil jalur minimalis dengan hanya ditemani ukulele untuk mengiringi
proses bertuturnya.

PUSAKATA
Mohammad Istiqomah Djamad atau lebih akrab disapa Is telah kembali ke blantika musik Indonesia
dengan bendera Pusakata. Pasca sudah tidak lagi bernaung dalam band Payung Teduh per Januari
2018 lalu, Is melanjutkan perjalanan bermusiknya di jalur solo dan baru saja merilis single “Kehabisan
Kata”. Nama ‘Pusakata’ yang dipilihnya merupakan pemberian dari anak pertama Is untuk adiknya
yang ketika itu belum lahir, dan setelah diselidiki ternyata juga memiliki makna “harta karun milik
Anda” dalam bahasa Bugis.

REDA
Reda Gaudiamo adalah separuh dari AriReda, duo musikalisasi puisi yang banyak bersemayam di
dalam memori hangat para penikmat musik Indonesia. Sebagai AriReda, Reda telah berkarya bersama
Ari Malibu sejak 1982, dari mulanya membawakan lagu-lagu dari musisi-musisi seirama Simon &
Garfunkel mereka kemudian menemukan formula khasnya yaitu musikalisasi puisi—menyanyikan
sajak-sajak penyair Indonesia dari berbagai generasi seperti Amir Hamzah, Goenawan Mohammad,
dan mantan dosen Reda di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Kini, Reda
tampil dengan format baru, dan kali ini dia akan turut andil dalam memainkan instrumen.

SANDRAYATI FAY
Singer-songwriter berdarah Filipina/Irlandia-Amerika yang lahir dan besar di Jawa-Bali ini baru saja
merilis EP perdananya yang berjudul Bahasa Hati, sebundel karya yang direkam secara live nyaris
dalam 1 hari saja di Rumah Topeng, Bali. Lagu-lagunya banyak berbicara mengenai alam,
kemanusiaan, identitas, dan cinta. Kini Sandra juga tengah mengerjakan proyek kolektif “Daramuda
Project” bersama Danilla dan Rara Sekar, dari 3 lokasi yang berbeda.

TIGAPAGI
Trio asal Bandung yang terdiri dari Sigit Pramudita, Eko Oktavianto, dan Prima Febrianto ini identik
dengan nomor-nomor sendu dengan suntikan irama pentatonis Sunda yang kental. Bahkan petikan
gitar yang ada terasa bagai kecapi, semakin mengukuhkan nuansa bumi Pasundan pada lagu-lagu
mereka. Ibarat tone warna, musik Tigapagi itu sephia—muram, tapi tidak selalu murung. Setelah 1-
track-LP Roekmana’s Repertoire yang diluncurkan pada tahun 2013 dan EP berdurasi 10 menit
Sembojan (2015), baru-baru ini mereka kembali dengan karya barunya berupa single kolaborasi
bersama Danilla yang bertajuk “Tidur Bersama”.

WAKE UP IRIS!
Wake Up Iris! adalah Bie Paksi dan Vania Marisca, duo folk dari kota Malang yang sedang seru-serunya
belakangan ini. Setelah merilis debut album Aureole, Bie & Vania langsung meneruskan langkah dengan menggelar tur promo album di beberapa kota di pulau Jawa kemudian berangkat ke SXSW 2018, music showcase & conference di Austin, Texas, AS—seluruhnya di kuartal pertama 2018.
Perjalanan Wake Up Iris! ke depan tampaknya akan seterang aureole itu sendiri, yang artinya
‘lingkaran cahaya yang mengelilingi suatu hal’. Di tiap aksi panggungnya, walau hanya berdua saja (Bie
pada gitar, vokal, dan kick drum, Vania pada violin dan vokal), Wake Up Iris! tetap mampu
menghasilkan sound yang meriah. Musik mereka akan mengingatkan kita pada musik tradisional
Irlandia, atau momen-momen menyenangkan saat berkumpul dan bercanda bersama orang-orang
yang kita sayangi.

WHITE SHOES AND THE COUPLES COMPANY
WSATCC terbentuk pertama kali pada tahun 2002 di sebuah kampus seni di bilangan Jakarta Pusat
oleh Aprilia Apsari, Yusmario Farabi, Saleh Hussein, Ricky Surya Virgana, Aprimela Prawidyanti, dan
John Navid. Musik mereka banyak terinspirasi dari soundtrack film layar lebar Indonesia era 1940an
hingga 1970an, irama disko retro, dan karya-karya komposer ternama Indonesia seperti Ismail
Marzuki, Guruh Soekarno Putra, dan Fariz RM. Karya-karya WSATCC adalah surat cinta malu-malu
kucing bagi Indonesia : tanpa meneriakkan nasionalisme secara literal, WSATCC mengajak kita
bertamasya ria menikmati keelokan Nusantara di album Vakansi, sementara di White Shoes and the
Couples Company Menyanyikan Lagu-lagu Daerah pendengar dibawa untuk kembali mengakrabi lagu-
lagu daerah Indonesia dalam sentuhan khas muda-mudi Cikini ini. Setelah merilis single “Suburbia”
dan “Dana Ekspress”, konon katanya kini mereka sedang menyusun materi untuk album terbaru.

GANG OF FOLK CLASS OF 2018
Arief S. Pramono
Arief S. Pramono adalah penyanyi dan penulis lagu dari Parepare, Sulawesi Selatan. Perjalanan
bermusiknya berawal saat dia menjadi salah satu pemenang di sebuah kompetisi kompilasi lagu
balada yang diadakan oleh Komunitas Rumah Balada Indonesia yang berbasis di Makassar, yang mana
salah satu penggagasnya adalah penyanyi balada lawas Indonesia Ully Sigar Rusady. Nuansa Ebiet G.
Ade cukup terasa dalam lagunya yang berjudul “Bersama Senja”.

Holaspica
Holaspica adalah Virdyas Eka Diputri atau biasa disapa Ved, seorang perempuan asal Lampung yang
telah merilis single yang sekaligus menjadi judul mini albumnya yang berjudul “Naik ke Laut”. Kisah
dalam mini albumnya terinspirasi dari sebuah kutipan dalam cerpen Eleonora karya Edgar Allan Poe,
yang berbunyi “venture to the sea of darkness just to see what it might contain”–seakan mengajak
pendengarnya untuk berani mengambil resiko.

Diroad
Single milik band asal Palembang yang berjudul “Pilumu Cinde” ini merupakan bagian dari Kompilasi
Stand with Cinde, sebuah upaya amplifikasi dukungan untuk penolakan penggusuran Pasar Cinde,
sebuah pasar tradisional di tengah kota Palembang. Dengan lagu tersebut, Diroad menunjukkan
bahwa folk dapat menjadi ‘kendaraan’ yang mengancam.

Sepertigamalam

Bermain di jalur folk instrumental, musisi asal Pontianak ini bersenjatakan guitalele dan satu
instrumen musik yang cukup tak terduga–bambu air. Coba dengarkan komposisinya antara lain “Pasir
Laut & Ombak”, dan rasakan sensasi petikan gitar diiringi gemricik air yang ditingkahi suara bambu
yang saling beradu.

LINE UP LITERASI

SEKELEBAT FESTIVAL
Makassar International Writers Festival
Digelar pertama kali tahun 2011, festival yang dimulai dalam skala kecil ini tidak hanya berdampak
besar pada masyarakat sastra (penulis, penikmat, penerbit, pengulas buku), tapi juga pada penduduk
lokal di Makassar, Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur pada umumnya. Meningkatnya jumlah
perpustakaan komunitas, bertumbuhnya ketertarikan pada buku dan story telling events, dan adanya
kesempatan tak terbatas untuk berkolaborasi dengan penulis dan seniman lokal, nasional, maupun
internasional menjadi hal yang menjadi sorotan utama dari festival ini.
MIWF dikelola oleh Rumata’ Artspace, rumah budaya yang dikembangkan secara independen di
Makassar dan diinisiasi oleh Lily Yulianti Farid (founder MIWF) bersama dengan sahabatnya yang juga
putra daerah Makassar, sutradara Riri Riza. Tujuan utama dari festival ini sendiri adalah untuk
menyebarluaskan kecintaan pada buku, meningkatkan minat baca (khususnya bagi pemuda dan
pelajar), memantik gairah aktifitas penulisan dan penerbitan, dan tentunya untuk menjadi wadah
berjejaring bagi siapapun yang terlibat di dalamnya.
Dalam panel ini kami mengundang Shinta Febriany, kurator MIWF 2018.

Jogja-NETPAC Asian Film Festival
Fokus menyoroti perkembangan sinema Asia, sejak awal JAFF berjalan beriringan dengan NETPAC
(Network for the Promotion of Asian Cinema), lembaga perfilman dan kebudayaan pan-Asia yang
berpusat di Colombo, Sri Lanka. Di sinilah para sineas, pengelola dan kurator festival, kritikus film,
distributor, eksibitor, pendidik, penonton, saling berjejaring dan berdialog pada titik temu dengan
banyak sektor lain misalnya seni, budaya, dan pariwisata.
JAFF sendiri pada 2018 ini akan mencapai edisi ke-13, dan sejak 2016 festival ini meluaskan wilayah
cakupannya tak lagi Asia saja melainkan juga Oceania. Hal ini dilakukan karena JAFF ingin memperluas
perspektif Asia yang dihadirkannya, tak terbatas pada film yang dibuat di Asia saja tapi juga
menyediakan arena bagi film karya sineas Asia yang berada di belahan bumi lain.
Di panel ini JAFF akan diwakilkan oleh Ifa Isfansyah. Ifa dikenal sebagai salah satu sutradara papan
atas di percaturan film Indonesia dan juga merupakan Direktur Eksekutif Jogja-NETPAC Asian Film
Festival (JAFF).

Rock In Celebes

Berada di bagian Timur Indonesia memang menjadi tantangan tersendiri untuk membuat sebuah
festival rock skala besar seperti Rock in Celebes di Makassar, tapi justru itulah yang juga menjadi
bensin utama tim RIC untuk terus merealisasikannya. Hasilnya, RIC yang awalnya digelar di lapangan
basket kini telah menjelma festival dengan pengunjung ribuan tiap tahunnya. Menariknya, selain
menghadirkan headliner nasional maupun internasional yang tentunya menarik perhatian, Rock in
Celebes juga memberikan porsi yang signifikan untuk musisi-musisi lokal Sulawesi khususnya
Makassar, karena mengangkat semangat skena lokal memang menjadi spirit utama dari event
tahunan ini.
Hardinansyah Putra Siji atau akrab disapa Ardy, penggagas sekaligus Project Director Rock in Celebes,
akan mewakili RIC dalam panel ini. Dirinya adalah salah satu pemantik energi kreatif khususnya di
Makassar sejak 2003, dengan bergerak di bisnis clothing, desain, music merchandise, dan rilisan fisik
bersama Chambers-nya. Sukses di ranah tersebut, selanjutnya lahirlah Chambers Entertainment yang
bergerak sebagai promotor, event organizer, dan artist agency; yang kemudian pada 2010 berhasil
menelurkan festival rock yang paling ditunggu di tanah Sulawesi ini.

Moderator:
Nuran Wibisono
Penulis dan jamaah hair metal garis keras ini dikenal dengan tulisan-tulisannya yang renyah, nakal,
dan bernas. Buku kumpulan tulisannya mengenai musik, “Nice Boys Don’t Write Rock ‘N Roll : Obsesi
Busuk Menulis Musik 2007-2017”, merekam memori-memori penting Nuran saat bersentuhan dengan
musik, mulai dari membeli kaset pertama hingga terhisap dalam musik dan mencanangkan bahwa
menjadi jurnalis musik adalah takdirnya (dilandasi pula dengan kesadaran bahwa skill bermusiknya
ternyata tergolong semenjana). Menuntaskan S2 di Kajian Pariwisata Universitas Gadjah Mada, tesis
Nuran membahas tentang music tourism, sesuatu yang geliatnya makin terasa dewasa ini namun
masih sangat jarang terkaji. Kini tengah sibuk sebagai tim riset Tirto.id.

FOLK INDONESIA TIMUR
Fuad Abdulgani
Fuad Abdulgani adalah vokalis band ambient dari Bandung, Elemental Gaze, yang memiliki minat
dengan lagu rakyat Maluku dan lagu-lagu protes agraria. Fuad yang saat ini bekerja sebagai dosen di
departemen Antropologi Universitas Lampung, melihat bahwa lagu rakyat dari provinsi yang pada
2018 menjadi tuan rumah pertama dari Konferensi Musik Indonesia tersebut banyak yang mengusung
tema migrasi. Dari situlah Fuad mencoba menggali sejarah migrasi orang Maluku melalui berbagai
kisah pengalaman migrasi yang termuat dalam lagu-lagu rakyat tersebut.

M.Istiqomah Djamad
Pasca sudah tidak lagi bernaung dalam band Payung Teduh per Januari 2018 lalu, Is melanjutkan
perjalanan bermusiknya di jalur solo dengan membawa bendera Pusakata. Selain berkonsentrasi di
panggung, pria kelahiran Makassar ini juga sempat mengenyam karir di dunia pendidikan sebagai guru
vokal dan gitar di Sekolah Musik Yamaha serta mengajar musik dan vokal di SMA 28 Jakarta. Pusakata
memang hanya terdiri dari Is seorang, tapi di setiap aksi panggungnya Is selalu ditemani kawan-kawan
baiknya yang tergabung dalam the Panganans—band pengiring yang mendapatkan namanya dari hobibersama yaitu makan. Bersama The Panganans, kini Pusakata sedang mengerjakan proyek album
Musik Pulau film musikal Sisir Kota Pesisir, yang didasari oleh cita-cita ingin mengajak penikmat
musik Tanah Air untuk bersama-sama mengingat Nusantara sebagai negara maritim.

Moderator:
Ivan Makshara
Jurnalis dan pengamat musik yang kini tengah disibukkan dengan kegiatannya sebagai managing
editor situs budaya pop Indonesia, Pop Hari Ini. Sempat menjadi digital reporter untuk majalah Rolling
Stone Indonesia, manager band Afternoon Talk, dan tim kreatif di Kiss FM Medan, Ivan memiliki
perspektif yang beragam mengenai dunia musik.

SEMESTA ONLINE MEDIA
Saylow, Co-Founder & Admin BaleBengong
BaleBengong adalah portal media jurnalisme warga (citizen journalism) di Bali. Portal yang dikelola
bersama oleh Sloka Institute dan Bali Blogger Community ini mengajak warga Bali untuk terlibat aktif
dalam penulisan berita khususnya seputar Denpasar dan Bali secara umum. Mulai dari isu yang
melibatkan khalayak ramai sampai yang personal; mulai dari gugatan buruh hingga tips memilih
tempat duduk terbaik di dalam bus. Dan selayaknya jurnalisme warga, selain menjadi objek berita
warga juga sekaligus menjadi subjeknya—dan di BaleBengong, subjektivitas sudut pandang penulislah
yang diberi kesempatan menduduki panggung utama, namun tetap berlandaskan fakta dan kejujuran.
Ardyan M. Erlangga, Managing Editor Vice Indonesia
Vice adalah media daring yang berpusat di Kanada dan memiliki jejaring di banyak negara di dunia,
salah satunya Indonesia. Paling dikenal akan liputan-liputan tajam dan mendalam dengan pendekatan
dokumenter mengenai cerita-cerita tersembunyi dari seluruh dunia, Vice selalu mencoba menantang
sudut pandang pembacanya dengan menghadirkan narasi-narasi yang yang membuat pembaca
mengangkat alis tanpa harus menjadi sensasional. Mulai dari nongkrong bersama dukun spesialis
pemburu pusaka, menyelidiki penyelundupan resep pizza ke Korea Utara, hingga mengikuti meriahnya
pesta sunat di Sumedang, pembaca akan diajak masuk, mendekat, dan memikirkannya lagi setelah
kalimat terakhir usai dibaca.

A. Sapto Anggoro, CEO Tirto.id
Awal terbentuk di 2015, Tirto.id hadir untuk menepis anggapan naif bahwa media daring bersinonim
dengan jurnalisme dangkal yang mengejar page views semata. Mengusung filosofi air (‘tirto’ adalah
‘air’ dalam bahasa Jawa), Tirto mencita-citakan jurnalisme yang mengalir, mengisi, jernih,
menunjukkan kedalaman, dan selalu dibutuhkan layaknya elemen alam tersebut. Nama Tirto juga
sekaligus menjadi penghormatan bagi Bapak Pers & Pahlawan Nasional Tirto Adhi Soerjo (1880-1918),
sosok yang Pramoedya Ananta Toer sebut sebagai ‘Sang Pemula’ karena jasanya mengawali upaya
mencerahkan pemikiran bangsa melalui jurnalisme. Tidak menomorsatukan kecepatan laporan namun
juga tidak abai untuk segera mengabarkan, Tirto banyak melibatkan analisis data yang intens, serta
menyampaikan laporannya dalam bentuk tulisan dan infografis yang dilengkapi dengan data
statistik—langkah yang menarik untuk memfasilitasi pembaca yang lebih suka ‘membaca’ gambar
ketimbang tulisan untuk makin dekat dengan wacana yang diangkat.

Moderator:
Felix Dass
Selain menulis musik di Jakarta Post sejak tahun 2009 dan di qubicle.id, Felix juga aktif menggagas
sejumlah gigs antara lain seri Bermain di Cikini dimana para pelaku dan penikmat musik diajak untuk
kembali ke gedung pertunjukan, dalam hal ini di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Hal
yang menjadi concern Felix selama bergerak dalam skena musik independen Indonesia bisa dibilang
holistik—tidak hanya soal pelaku depan panggung dan pengadaan panggungnya, tapi juga soal
dokumentasi, sisi bisnis, dan sustainability dari skena ini sendiri. Felix Dass baru saja menulis buku
mengenai band yang juga berbasis di Cikini, White Shoes and the Couples Company.

DRAMATIC READING
Gunawan Maryanto
Gunawan Maryanto adalah seorang penulis, aktor dan sutradara teater. Dewasa ini Gunawan makin
dikenal luas oleh luar kalangan penikmat teater lewat perannya sebagai Widji Thukul dalam film
Istirahatlah Kata-Kata (2017), peran yang kemudian diganjar penghargaan Usmar Ismail Award
sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik. Gunawan juga mengelola Teater Garasi yang berbasis di
Yogyakarta dan sejak 2010 rutin menyelenggarakan Indonesia Dramatic Reading Festival bersama
sesama penggiat teater Joned Suryatmoko dan Lusia Neti. Semasa karirnya sejak 1990, karya tulis
Gunawan berupa prosa, puisi, dan kritik seni telah banyak dimuat di berbagai media massa; salah satu
bukunya Sejumlah Perkutut Buat Bapak (2010) memenangkan Khatulistiwa Literary Award; dan karya
teaternya baik sebagai penulis, aktor, maupun sutradara telah banyak dipentaskan di berbagai negara.
LITERASI INDONESIA TIMUR
Aan Mansyur
Lahir dan besar di Bone, Sulawesi Selatan, Aan adalah satu dari sedikit penyair berdarah Bugis yang
karyanya sedemikian bergaungnya di Tanah Air. Tak Ada New York Hari Ini laku ratusan ribu
eksemplar dalam hitungan bulan, kejadian yang sama langkanya di Indonesia. Buku-buku Aan
sebelumnya, antara lain Kukila (2012) dan Melihat Api Bekerja (2015) juga merupakan karya sastra
yang unik—nikmat dibaca baik oleh penikmat sastra maupun oleh orang-orang yang baru memulai
mencoba menikmati puisi. Sebagai penyair yang tidak berasal dari Indonesia Barat, Aan sempat
melalui fase menantang karena gaya bahasa di tempatnya berasal berbeda dengan gaya bahasa yang
banyak dipakai penyair Sumatera & Jawa; tapi ternyata justru itulah yang membuat karya Aan jadi
memiliki rasa tersendiri. Sejak 2015, selain menulis Aan juga disibukkan dengan aktifitas sebagai
pustakawan di perpustakaan komunitas yang dibangun bersama sahabat-sahabatnya, Katakerja.
Mahfud Ikhwan
Mahfud Ikhwan adalah seorang penulis kelahiran Lamongan, Jawa Timur. Karya bukunya antara lain
novel Kambing dan Hujan (2015), kumpulan cerpen Belajar Mencintai Kambing (2016), dan kumpulan
esai film Aku dan Film India Melawan Dunia jilid 1 & 2. Pada 2017 novel Mahfud yang berjudul Dawuk
berhasil membuatnya meraih gelar sebagai penulis prosa terbaik di Kusala Sastra Khatulistiwa. Dalam
tulisan-tulisannya, Mahfud banyak mengangkat realita yang dekat dengan kehidupannya—kehidupan
desa. Dalam kumpulan esainya pun dia banyak menggambarkan seperti apa fenomena histeria film
India di mata masyarakat kampung kecil di Lamongan. Mahfud melihat sejauh ini karya fiksi di

Indonesia terlalu pekat dengan nuansa urban, padahal kita semua tentu sadar bahwa sebagian
masyarakat kita hidup di kampung. Bagi Mahfud, ini semacam idealismenya, tapi dia juga tidak
keberatan kalau langkah tersebut dianggap sebagai strategi mencari celah posisi di pasaran.
Moderator:
Tomi Wibisono
Tomi Wibisono adalah Editor in Chief sekaligus pendiri majalah musik WARN!NG yang bermarkas di
Yogyakarta. Tak hanya hadir dalam bentuk media daring, WARN!NG juga rilis secara fisik dalam
bentuk majalah cetak. Langkah Tomi untuk membawa WARN!NG ke ranah cetak bisa dibilang langkah
yang berani, mengingat semakin ke sini media cetak komersil sekalipun mulai tumbang satu-persatu.
Kini di tahun ke-6 nya, majalah yang Tomi dkk rintis sejak masih duduk di bangku kuliah ini telah
memiliki kontributor dan kanal sirkulasi yang menyebar di seluruh Indonesia. Berbekal pengalaman di
pers mahasiswa & aktifitas intens di dunia zine, pemuda asal Balikpapan ini kemudian yakin untuk
membangun medianya sendiri—dengan semangat yang sama dengan zine, yaitu mendukung
kemerdekaan menulis. Kini Tomi sedang tekun mengelola usaha rintisan di bidang penerbitan.

WORKSHOP

CARA-CARA TIDAK KREATIF UNTUK MENULIS PUISI
Theoresia Rumthe & Weslly Johannes
Theoresia Rumthe & Weslly Johannes adalah duo penulis yang baru saja merilis buku kumpulan puisi
Tempat Paling Liar di Muka Bumi dan Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai. Theo, atau dikenal juga
dengan moniker Perempuansore, adalah seorang blogger asal Ambon yang namanya sudah tidak asing
lagi di jagad penulisan dunia maya; sedangkan Weslly adalah seorang penyair yang lahir dan besar di
Namlea, Pulau Buru. Buku kumpulan puisi pertama mereka lahir dari kegiatan saling berbalas puisi via
chat antar pasangan jarak jauh Jawa-Maluku (Theo di Bandung, Weslly di Ambon). Mereka sendiri
tidak menyangka ide sederhana berupa dialog ungkapan rindu yang niat awalnya ingin mereka simpan
sendiri saja ini kemudian menjadi sebuah karya yang menghangatkan hati para pembacanya. Dengan
gaya penulisan puisi yang sama sekali berbeda (Weslly suka membongkar-bongkar lagi puisi yang
sudah ditulisnya, sementara Theo lebih suka menulis secara ‘one-take’), menikmati karya kolektif
mereka jadi seperti benar-benar menyaksikan interaksi 2 karakter yang berbeda.

PEWARNAAN KAIN ALAMI
Sancayarini
Sancayarini adalah pengrajin batik dan pemilik Kanawida (yang dalam bahasa Kawi, berarti ‘warna-
warni’) dan Kana Goods (yang dikenal dengan produk fesyen berwarna indigo), natural-dye batik
brands. Berbasis di Pamulang, Tangerang, Sancayarini menghadirkan batik kontemporer dengan
teknik pewarnaan alamiah yang tentunya lebih ramah lingkungan. Bahan dari pewarna alami yang
digunakannya antara lain berasal dari kulit & daging buah, serta dedaunan. Beberapa bahkan berasal
dari limbah rumahan yang tak terpakai lagi. Semua produk yang dihasilkannya merupakan buatan
tangan, dan melalui 2 brandnya ini Sancayarini ingin mengajak generasi muda untuk lebih peduli dan
aktif dalam pelestarian batik pewarna alam.

TEATER BONEKA

Papermoon Puppet
Papermoon Puppet Theater adalah sebuah teater wayang kontemporer di Yogyakarta. Salah satu
pencetus Papermoon, Maria Tri Sulistyani yang berlatar belakang sebagai ilustrator, penulis, dan
pemain teater sangat menyukai dunia anak, yang kemudian pada 2006 bersama sejumlah rekan mulai
memanifestasikan kecintaan tersebut dalam bentuk yang sangat sederhana, yaitu pertunjukan boneka
tangan (yang terbuat dari barang-barang bekas) yang digelar di kamar kos sewaan yang disulap jadi
perpustakaan mini. Yang menarik, pertunjukan teater yang diadakan Papermoon selalu nyaris tanpa
dialog yang terucap, jadi penonton ditantang untuk menterjemahkan sendiri kisah yang mereka
saksikan. Kini selain telah melanglang buana ke panggung-panggung mancanegara, Papermoon juga
menyelenggarakan festival teater boneka kontemporer berskala internasional yang digelar dua
tahunan, bernama Pesta Boneka. Dan akhir tahun ini Pesta Boneka akan kembali hadir memeriahkan
suasana di Yogyakarta.

KANAL KAMI

____________________________________________________

– Website www.folkmusicfestival.id
– Website www.siasatpartikelir.com
– Facebook Page : @folkmusicfestival.id
– Instagram : @folkmusicfestival
– LINE Official : @folkmusicfestival
– Mail List : Share alamat e-mail kamu di Official LINE @folkmusicfestival